
Jubah seorang advokat bukanlah sekadar kain penutup badan, melainkan baju zirah yang ditempa untuk melindungi martabat manusia dari amukan tirani yang paling gelap.
Langit Berlin pada musim semi tahun 1931 tampak muram, seolah tertutup kabut tebal yang membawa aroma ketegangan dari jalanan aspal yang dingin. Di tengah kota yang sedang bergejolak tersebut, seorang advokat muda bernama Hans Litten melangkah mantap menuju ruang sidang Moabit dengan sebuah tas kulit berisi tumpukan dokumen keadilan. Sosok tersebut bukan seorang serdadu, melainkan seorang intelektual yang percaya bahwa kata-kata dan logika merupakan senjata paling tajam untuk menelanjangi wajah asli sebuah kekuasaan yang zalim. Perjalanan Litten pagi itu akan mencatatkan namanya dalam sejarah sebagai orang yang berani menyeret seorang calon diktator ke kotak saksi.

Teror Kemeja Cokelat di Tanzpalast Eden
Suasana di dalam ruang sidang terasa sangat pengap, penuh dengan bisik-bisik dari para jurnalis dan pendukung politik yang saling lempar pandang dengan penuh permusuhan. Perkara yang dibawa Litten ke meja hijau berakar dari sebuah tragedi berdarah yang terjadi di aula dansa Tanzpalast Eden. Sekelompok milisi yang dikenal sebagai Sturmabteilung atau SA telah melakukan penyerangan brutal terhadap warga sipil yang sedang berkumpul. Kelompok paramiliter kemeja cokelat tersebut merupakan organisasi sayap kanan milik Partai Nazi yang tugas utamanya adalah menyebarkan intimidasi fisik. Mereka bertugas menguasai jalanan, membubarkan rapat lawan politik, dan menciptakan suasana kekacauan agar pimpinan mereka bisa tampil sebagai satu-satunya penyelamat ketertiban.
Litten menyadari bahwa menangkap para pelaku di lapangan hanyalah langkah kecil yang tidak akan menghentikan akar kekerasan tersebut. Langkah besar mulai disusun dalam benaknya untuk membuktikan bahwa aksi SA bukan sekadar kenakalan oknum atau ledakan emosi spontan di jalanan. Dokumen-dokumen yang ia kumpulkan menunjukkan pola yang sangat terorganisir, sebuah rantai komando yang berujung pada pimpinan tertinggi partai. Keberanian Litten memuncak saat ia mengajukan permohonan yang membuat seluruh Jerman terhenyak, yaitu menghadirkan Adolf Hitler sebagai saksi di bawah sumpah untuk menjelaskan kebijakan partainya terkait kekerasan milisi tersebut.
Tiga Jam yang Mengguncang Tirani
Hitler hadir di ruang sidang Moabit dengan kepercayaan diri seorang politisi yang merasa sedang di atas angin. Sosok orator tersebut mencoba memamerkan wajah legalitas, berakting sebagai pemimpin yang patuh pada hukum demi menarik simpati masyarakat kelas menengah. Litten tidak membiarkan sandiwara tersebut berlangsung lama. Sosok advokat muda itu mulai melancarkan pertanyaan-pertanyaan yang dingin, tajam, dan sangat sistematis, memaksa Hitler untuk memberikan jawaban yang konkret atas setiap kekerasan yang dilakukan oleh milisi SA.
Pemeriksaan silang tersebut berlangsung selama tiga jam yang sangat melelahkan bagi sang calon diktator. Litten menghantam Hitler dengan bukti selebaran internal partai yang menyerukan penghancuran terhadap lawan-lawan politik melalui jalan kekerasan fisik. Setiap kali Hitler mencoba berkelit dengan retorika kosong mengenai martabat bangsa, Litten menariknya kembali ke dalam fakta-fakta hukum yang tidak bisa dibantah. Wajah Hitler mulai berubah merah padam, urat lehernya menegang, dan suaranya mulai meninggi dalam amarah saat ia menyadari bahwa ia sedang ditelanjangi secara intelektual di hadapan publik oleh seorang pemuda cemerlang. Peristiwa tersebut berhasil menunjukkan kepada dunia bahwa legalitas yang dikampanyekan Nazi hanyalah sebuah kedok untuk menyembunyikan rencana penghancuran sistem hukum dari dalam.
Kebenaran di dalam ruang sidang sering kali lebih tajam daripada sebilah pedang, terutama saat ia digenggam oleh seorang pembela yang berani menatap mata kekuasaan tanpa sekalipun berkedip.

Hukum yang Menolak Ketidakadilan Tertahankan
Perlawanan Litten di ruang sidang merupakan upaya keras untuk menjaga agar hukum tetap memiliki martabat di tengah badai otoritarianisme yang mulai menerjang. Prinsip yang ia perjuangkan selaras dengan pemikiran yang tertuang dalam buku Gesetzliches Unrecht und übergesetzliches Recht karya Gustav Radbruch tahun 1946. Menurut buku tersebut, aturan tertulis yang bertentangan dengan prinsip keadilan pada tingkat yang tidak tertahankan harus dianggap sebagai “hukum yang tidak sah” atau tidak memiliki kekuatan hukum sama sekali. Litten memahami jauh sebelum teori tersebut dibukukan bahwa sebuah peraturan yang digunakan untuk menindas martabat manusia telah kehilangan hakikatnya sebagai hukum yang benar.
Tindakan berani Litten di Moabit menjadi bukti bahwa seorang pembela sejati tidak boleh tunduk pada teks-teks hukum yang telah diselewengkan oleh penguasa. Integritas moral menuntut seorang praktisi hukum untuk melihat melampaui surat perintah dan kebijakan yang dibuat demi kepentingan golongan tertentu. Litten telah memberikan standar tertinggi bagi profesi advokat, di mana keberanian untuk menyuarakan kebenaran substantif diletakkan di atas segala risiko personal. Kepastian hukum tidak akan pernah tercapai selama hukum tersebut hanya menjadi alat bagi milisi atau kekuatan fisik untuk melegitimasi penindasan terhadap rakyat kecil.

Jalan Panjang Menuju Dachau
Penghinaan yang dialami Hitler di kotak saksi menjadi luka yang tidak pernah sembuh dalam egonya yang haus kekuasaan. Hitler tidak pernah melupakan nama Hans Litten dan bersumpah akan membalas dendam atas setiap detik ketidakberdayaan yang ia rasakan di ruang sidang tersebut. Sesaat setelah kekuasaan absolut jatuh ke tangan Nazi pada tahun 1933, operasi pembersihan intelektual segera dijalankan. Hans Litten menjadi salah satu target utama yang ditangkap di malam kebakaran Reichstag, ditarik paksa dari kediamannya saat kota Berlin masih terlelap dalam kegelapan.
Kehidupan Litten setelah itu adalah sebuah gambaran mengenai ketabahan yang luar biasa di tengah penderitaan yang melampaui batas kemanusiaan. Sosok pembela tersebut diseret dari satu kamp konsentrasi ke kamp lainnya, mulai dari Spandau, Sonnenburg, hingga berakhir di Dachau yang dingin dan mematikan. Di sana, Litten disiksa secara sistematis guna mematahkan semangat baja yang pernah ia tunjukkan di hadapan Hitler. Tulang rahangnya dipatahkan dan penglihatannya memudar akibat penganiayaan fisik yang brutal, akan tetapi martabat intelektualnya tetap tidak tergoyahkan oleh jeruji besi manapun.
Rekan-rekan sesama tahanan mengenangnya sebagai sosok cahaya yang tetap bersinar di tengah kegelapan kamp yang suram. Litten sering kali menghabiskan waktu luangnya untuk membacakan puisi-puisi klasik dan mendiskusikan prinsip filsafat bagi para tahanan lain yang mulai kehilangan harapan. Hal tersebut menunjukkan bahwa meskipun raga dapat disiksa dan dibatasi, jiwa yang berpegang pada kebenaran tidak akan pernah bisa dijebloskan ke dalam penjara. Litten tetap menjadi seorang pembela bahkan di dalam kamp, membela semangat kemanusiaan yang sedang dicoba untuk dipadamkan oleh rezim yang zalim.

Cahaya yang Tak Padam
Pada Februari 1938, di kamp konsentrasi Dachau, Hans Litten akhirnya menyerah pada penderitaan fisik yang telah menghancurkan tubuhnya selama bertahun-tahun. Kematiannya merupakan sebuah akhir yang tragis bagi seorang puritan keadilan, sekaligus mengukuhkan namanya sebagai simbol abadi keberanian bagi setiap pembela di seluruh dunia. Litten membuktikan sebuah kebenaran pahit bahwa kejujuran di hadapan hukum sering kali memerlukan pengorbanan nyawa sebagai bayarannya.
Warisan yang ditinggalkan oleh Litten menjadi pengingat bagi setiap generasi bahwa hukum tidak boleh kehilangan nuraninya di bawah tekanan penguasa. Keberaniannya untuk menyeret kekuasaan ke kotak saksi memberikan pelajaran berharga bahwa tidak ada seorang pun yang berada di atas hukum, sekuat apa pun dukungan massa yang ia miliki. Nama Hans Litten akan selalu hidup di cakrawala sejarah hukum sebagai “Singa dari Moabit”, sosok yang berani menatap mata tirani tanpa pernah berkedip sedikit pun. Bagi setiap advokat, kisah Litten adalah panggilan untuk selalu menjaga api kebenaran agar tidak pernah padam, bahkan saat badai otoritarianisme sedang mengamuk paling kencang sekalipun.

Sejarah mungkin sanggup memadamkan raga seorang pejuang, tetapi cahaya keadilan yang ia nyalakan di hadapan kegelapan akan terus bersinar melampaui batas waktu dan kekuasaan.
Penulis: Girindra Sandino
Referensi Utama:
- Buku: Statutory Lawlessness and Supra-Statutory Law (Gustav Radbruch: 1946).
- Sejarah: Crossing Hitler: The Man Who Put the Nazis on the Witness Stand (Benjamin Carter Hett: 2008).
- Biografi: A Mother Fights Hitler (Irmgard Litten: 1940).