Catatan Akhir Ramadhan Kaligis & Associates

Foto: Ilustrasi Libur Kantor Akhir Ramadhan
By: Girindra Sandino

Meletakkan pena di hari terakhir bukan berarti berhenti membela, melainkan memberi jeda agar esok kita kembali dengan nurani yang lebih jernih.

 

Sebulan penuh ruang kantor menjadi saksi bisu bagi perpaduan antara dedikasi profesional dan keteguhan spiritual. Menjalankan profesi hukum di tengah ibadah puasa bukan sekadar ujian fisik, melainkan sebuah seni menjaga fokus di saat tenaga perlahan meluruh. Pagi hari biasanya dimulai dengan derap langkah mantap, seiring matahari naik ke titik tertinggi, ritme kerja melambat secara alami mengikuti denyut sabar yang dipupuk sejak fajar.

 

Pemandangan rekan-rekan yang bersandar di kursi kerja dengan gurat lelah di wajah menjadi hal yang karib. Konsentrasi yang biasanya tajam saat membedah pasal-pasal sering kali teruji oleh kantuk yang datang tiba-tiba setelah waktu Zuhur. Integritas dalam menangani perkara tetap tegak meski raga terasa lunglai. Debat yang biasanya meledak-ledak di ruang rapat berubah menjadi diskusi yang lebih tenang, penuh retorika penghematan energi. Sering kali tawa canda pecah saat salah satu dari kami salah sebut istilah karena kehilangan fokus sesaat, yang kemudian segera dimaafkan dengan seloroh khas jam kritis menjelang buka.

 

Terik yang meredam di ufuk sore adalah isyarat bahwa setiap debat harus berujung pada pelukan maaf.

 

Foto: Tampak Depan Kantor Kaligis & Associates

Momen yang paling dinantikan tentu saja saat-saat menjelang senja. Meja panjang yang biasanya dipenuhi tumpukan dokumen dan berkas perkara yang rumit, perlahan berganti wajah menjadi hamparan takjil yang menggugah selera. Di sinilah sisi kemanusiaan kami benar-benar terlihat. Tidak ada lagi sekat jabatan, yang ada hanya kehangatan dalam menanti azan Magrib. Candaan mengenai hilal bonus atau rencana mudik yang menantang adrenalin menjadi topik yang lebih hangat daripada pembahasan draf gugatan mana pun.

 

Hari terakhir di kantor ditutup dengan merapikan meja kerja, memastikan setiap berkas telah aman sebelum ditinggal libur panjang. Ada kelegaan yang merayap saat kunci-kunci laci diputar untuk terakhir kalinya di bulan ini. Semangat untuk saling memaafkan kini menggantikan ketegangan sengketa yang selama ini kami kawal.

 

Artikel ini dibuat saat aspal Jakarta mulai bernapas lega, ditinggal deru roda-roda yang pulang menuju rindu. Terik yang semula garang perlahan luluh, meredam dalam pelukan sore yang jingga, seiring jemari kami yang melipat berkas terakhir dengan segelas rasa syukur. Di bawah langit ibukota yang mendadak lengang, kami melangkah keluar dengan hati yang ringan. Selamat menjalankan libur Lebaran bagi seluruh klien dan mitra kerja. Semoga pintu maaf terbuka selebar cakrawala, sebagaimana kita membuka lembaran baru yang jauh lebih bersih.

 

Kita mengunci laci kantor untuk membuka pintu rumah; kita menutup berkas perkara untuk membuka lembaran maaf yang tak terhingga.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *